Kebijakan The Fed hingga Ketegangan Geopolitik Masih Jadi Perhatian Pasar

2 weeks ago 20

Liputan6.com, Jakarta - Ketegangan geopolitik termasuk perang tarif hingga kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) masih menjadi risiko pasar ke depan.

Adapun sejumlah sentimen menjadi perhatian pada pekan ini. Salah satunya kekhawatiran terhadap fiskal Amerika Serikat (AS). Pada pekan ini, penutupan pemerintah AS atau shutdown pemerintah AS melampaui rekor terpanjang dalam sejarah.

Penutupan pemerintah AS terus berlanjut tanpa tanda-tanda berakhir. Dampak penutupan pemerintah AS ini secara bertahap mempengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat AS.

Terbaru, regulator AS mengurangi jumlah penerbangan di bandara domestik untuk mengurangi beban penutupan.

Semakin lama penutupan berlangsung, semakin besar kerugian riil bagi ekonomi AS. Ekonom memperkirakan sekitar USD 15 miliar atau Rp 250,38 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.692) per minggu.

Di sisi lain melihat pasar modal, investor saham di AS tampaknya sebagian besar tidak terganggu oleh penutupan pemerintah yang sedang berlangsung. Akan tetapi, indeks saham di wall street terpukul oleh sentimen negatif terhadap valuasi saham artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang terlalu mahal.

"Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal AS baru-baru ini kembali meningkat, mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS lebih tinggi. Imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun saat ini berada di kisaran 4,1 persen,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore Asset Management Indonesia, Minggu (9/11/2025).

Adapun hal ini disebabkan oleh beberapa alasan, termasuk kemungkinan Departemen Keuangan meningkatkan penerbitan obligasi tahun depan.

Selain itu, masih ada keputusan Mahkamah Agung mengenai legalitas tarif Presiden AS Donald Trump berdasarkan IEEPA.

“Meskipun keputusan akhir belum dibuat, terdapat risiko kekurangan pendapatan yang dapat memperlebar defisit fiskal,” demikian seperti dikutip.

The Fed Berpotensi Pangkas Suku Bunga pada Desember 2025

Indikator-indikator Amerika Serikat belum menunjukkan “kejatuhan bebas” dalam perekonomian, di samping harapan yang lebih rendah terhadap laju penurunan suku bunga ke depan, yang telah membuat imbal hasil obligasi pemerintah AS tetap tinggi dalam jangka pendek.

Selain itu, Ashmore melihat the Fed kemungkinan besar akan memangkas suku bunga pada Desember. Akan tetapi, kurangnya data resmi yang terus berlanjut telah membuat arah kebijakan semakin tidak pasti.

Dari sentimen domestik, Ashmore melihat koreksi pada imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia. Imbal hasil bertenor 10 tahun berada di sektiar 6,18% setelah reli tajam pada Oktober. Namun, hal ini sebagian disebabkan oleh jeda tak terduga oleh Bank Indonesia, sementara pasar memperkirakan penurunan suku bunga berkelanjutan.

“Berbeda dengan kekhawatiran fiskal di Amerika Serikat, masih terdapat kemungkinan besar untuk penerbitan obligasi lebih rendah pada tahun berikutnya, di samping disiplin fiskal dengan Kementerian Keuangan tetap berkomitmen untuk mempertahankan defisit di bawah 3 persen,” demikian seperti dikutip.

Ekonomi Indonesia

Sementara itu, Bank Indonesia telah mengindikasikan lebih banyak ruang untuk penurunan suku bunga. Laporan inflasi terbaru menunjukkan peningkatan bertahap, tetapi levelnya tetap berada dalam target bank sentral. Selain itu, rupiah masih melemah terhadap dolar Amerika Serikat tetapi tetap stabil.

"Selain itu, data pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) untuk kuartal ketuga 2025 lebih baik dari yang diharapkan dengan pertumbuhan signifikan pada porsi belanja pemerintah,” demikian seperti dikutip.

Adapun ekonom telah merevisi pertumbuhan ekonomi lebih tinggi pada 2025. Di sisi lain, pemerintah telah mempertahankan targetnya di 5,2%.

"Kami menilai Bank Indonesia masih memiliki alasan untuk terus memangkas suku bunga guna mendukung perekonomian domestik dan akan menekan imbal hasil,” demikian seperti dikutip.

Sentimen Pasar Modal

Dari pasar modal, setelah laporan laba perseroan untuk kuartal ketiga 2025, Ashmore melihat sejumlah tanda laba mencapai titik terendah pada kuartal terakhir seiring meningkatnya kemungkinan pemulihan.

Perusahaan meski banyak melaporkan penurunan penghasilan, tetapi penurunan peringkat lebih kecil dibandingkan kuartal kedua karena laba bersih secara keseluruhan menjadi lebih tangguh.

"Kami masih optimistis terhadap sektor-sektor tertentu untuk saham Indonesia, dengan bauran kebijakan yang tetap pro pertumbuhan,”.

Ashmore menilai, sektor konsumen masih melihat katalis karena paket stimulus pemerintah dapat meningkatkan konsumsi domestik.

Selain itu, untuk obligasi, Ashmore prediksi penurunan imbal hasil lebih lanjut dengan siklus pelonggaran yang berkelanjutna baik global dan domestik. Hal ini dengan peluang tetap ada pada imbal hasil tenor menengah-panjang.

“Meskipun kami masih positif terhadap perkembangan keseluruhan, risiko global utama yang perlu diperhatikan ke depannya, termasuk ketegangan geopolitik seperti hambatan perdagangan di samping perubahan sikal dari the Fed,” demikian seperti dikutip.

Secara keseluruhan, Ashmore melihat investor harus tetap berada pada posisi yang baik untuk mendapatkan keuntungan dari saham dan obligasi. Ashmore melihat minat lebih kuat dari investor asing dan mempertimbangkan saham-saham yang berkualitas dengan harga menarik.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |