Bursa Sepekan: Pencatatan 2 Obligasi, Satu Sukuk dan Saham

2 weeks ago 21

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat selama sepekan tepatnya pada 3-7 November 2025 ada pencatatan dua obligasi, satu sukuk dan satu saham di BEI.

Pada Rabu, 5 November 2025, obligasi berkelanjutan II OKI Pulp and Paper Mills Tahap III tercatat di BEI. Selain itu, ada Obligasi USD Berkelanjutan II OKI Pulp & Paper Mills Tahap III dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan II OKI Pulp & Paper Mills Tahap III Tahun 2025.

Obligasi Berkelanjutan II dicatatkan senilai Rp 750 miliar, kemudian Obligasi USD Berkelanjutan II dicatatkan dengan nilai nominal USD 17.172,00 dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan II dicatatkan dengan nilai nominal Rp 750 miliar.

Hasil pemeringkatan dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) dan PT Kredit Rating Indonesia untuk Obligasi Berkelanjutan II OKI Pulp & Paper Mills Tahap III Tahun 2025 dan Obligasi USD Berkelanjutan II OKI Pulp & Paper Mills Tahap III Tahun 2025 adalah idA+ (Single A Plus) dan irAA- (Double A Minus).

Sedangkan untuk Sukuk Mudharabah Berkelanjutan II OKI Pulp & Paper Mills Tahap III Tahun 2025 adalah idA+(sy) (Single A plus syariah) dan irAA- (Double A Minus) dan dengan Wali Amanat PT Bank KB Indonesia Tbk.

Kemudian pada Kamis, 6 November 2025, Obligasi Berkelanjutan II Indonesia Infrastructure Finance Tahap III Tahun 2025 oleh PT Indonesia Infrastructure Finance mulai dicatatkan di BEI senilai Rp 1,5 triliun.

Hasil pemeringkatan dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) untuk Obligasi Berkelanjutan II Indonesia Infrastructure Finance Tahap III Tahun 2025 adalah idAAA (Triple A) dengan Wali Amanat PT Bank CIMB Niaga Tbk.

Pencatatan Saham dan Total Emisi Obligasi

Pada hari yang sama, terdapat pencatatan perdana saham PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (PJHB) sebagai perusahaan ke-24 yang tercatat di BEI selama 2025.

PJHB yang tercatat di Papan Pengembangan BEI, bergerak di bidang angkutan laut perairan pelabuhan dalam negeri untuk barang berupa alat berat dan kontainer. Total fund raised dari pencatatan PJHB adalah sebesar Rp 158,40 miliar.

Total Emisi Obligasi

Total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat sepanjang 2025 adalah 156 emisi dari 76 emiten senilai Rp 180,83 triliun. Dengan pencatatan tersebut, total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 650 emisi dengan nilai nominal outstanding Rp 527,72 triliun dan USD 139,34 juta, diterbitkan oleh 136 emiten.

Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI berjumlah 191 seri dengan nilai nominal Rp 6.423,84 triliun dan USD 352,10 juta. EBA sebanyak 7 emisi senilai Rp 2,13 triliun.

Kinerja IHSG Sepekan

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyentuh rekor tertinggi lagi pada perdagangan 3-7 November 2025.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (8/11/2025), IHSG naik 2,83% dengan ditutup ke posisi 8.394,59. “Hal tersebut menjadi rekor tertinggi IHSG sepanjang sejarah,” ujar Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad.

Adapun kondisi IHSG berbeda dari pekan lalu. Saat itu IHSG turun 1,3% ke posisi 8.163,87.

Vice President Head of Marketing, Strategy & Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi Kasmarandana menilai kenaikan IHSG didorong oleh beberapa sentimen. Pertama, rilis data ekonomi Indonesia yang masih solid, yakni Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal ketiga tumbuh 5,04% y/y.

Selain itu, PMI Manufaktur di level 51,2 per Oktober 2025 atau di zona ekspansif, selanjutnya pertumbuhan inflasi sebesar 2,86% y/y per Oktober 25 yang menunjukkan masih terjaga di target Bank Indonesia (BI).

“Pertumbuhan ekspor meningkat menjadi 11,4% y/y atau di atas bulan sebelumnya yang menunjukkan aktivitas ekonomi yang meningkat,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com lewat pesan singkat.

Sentimen IHSG

Kedua, rilis kinerja kuartal ketiga 2025. Oktavianus menuturkan, beberapa sektor menunjukkan outperform dibandingkan periode sebelumnya sehingga mendorong demand dan normalisasi harga saham pada nilai wajarnya. 

Ketiga, ,enurunnya kekhawatiran pasar pada kebijakan tarif Amerika Serikat (AS), seiring dengan pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Xi Jinping yang mendapatkan kesepakatan.

"Selain itu, government shutdown yang masih berlanjut berpotensi menekan indeks USD, sehingga di sisi lain tekanan terhadap Rupiah sudah mulai berkurang,” kata Oktavianus.

Kapitalisasi pasar BEI naik 3,09% menjadi Rp 15.316 triliun dari Rp 14.857 triliun pada pekan lalu.

Di sisi lain, rata-rata frekuensi transaksi harian merosot 6,85% menjadi 2,16 juta kali transaksi dari 2,32 juta kali transaksi pada pekan lalu.

Rata-rata volume transaksi harian bursa pada pekan ini turun 14,37% menjadi 27,06 miliar saham dari 31,61 miliar saham pada pekan lalu. Rata-rata nilai transaksi harian BEI tergelincir 22,46% menjadi Rp 17,54 triliun dari Rp 22,63 triliun pada pekan lalu.

Selama sepekan ini, investor asing masih mencatatkan aksi beli saham. Tercatat aksi beli saham mencapai Rp 3,45 triliun dari pekan lalu Rp 5,53 triliun.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |