BEI Proses 13 IPO Perusahaaan, Mayoritas Beraset Menengah

2 weeks ago 23

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 13 perusahaan yang dalam proses untuk mencatatkan saham perdana di BEI hingga kini.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menuturkan, hingga 7 November 2025 tercatat 24 perusahaan yang mencatatkan saham di BEI. Total dana yang dihimpun mencapai Rp 15,21 triliun.

“Hingga saat ini, terdapat 13 perusahaan tercatat dalam pipeline pencatatan saham BEI,” ujar Nyoman ditulis Minggu, (9/11/2025).

Berikut adalah klasifikasi aset perusahaan yang kini berada dalam pipeline merujuk pada POJK Nomor 53/POJK.04/2017:

  • 2 perusahaan aset skala kecil (aset di bawah Rp 50 miliar)
  • 6 perusahaan aset skala menengah (aset antara Rp 50 miliar-Rp 250 miliar)
  • 5 perusahaan aset skala besar (aset di atas Rp 250 miliar)

Berikut rincian sektornya:

  • 2 perusahaan dari sektor basic materials
  • 1 perusahaan dari sektor consumer siklikal
  • 1 perusahaan dari sektor consumer nonsiklikal
  • 0 perusahaan dari sektor energi
  • 4 perusahaan dari sektor keuangan
  • 0 perusahaan dari sektor perawatan kesehatan
  • 2 perusahaan dari sektor industri
  • 0 perusahaan dari sektor infrastruktur
  • 0 perusahaan dari sektor properti dan real estate
  • 2 perusahaan dari sektor teknologi
  • 1 perusahaan dari sektor transportasi dan logistik

Selain itu, BEI mencatat ada 156 emisi dari 75 penerbit efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) dengan dana yang dihimpun sebesar Rp 180,8 miliar.

"Sampai dengan 7 November 2025 terdapat 21 emisi dari 16 penerbit EBUS yang sedang berada dalam pipeline,” ujar Nyoman.

Berikut klasifikasi sektor dari penerbit EBUS tersebut:

  • 2 perusahaan dari sektor basic materials
  • 0 perusahaan dari sektor consumer siklikal
  • 0 perusahaan dari sektor consumer nonsiklikal
  • 1 perusahaan dari sektor eneri
  • 8 perusahaan dari sektor keuangan
  • 0 perusahaan dari sektor perawatan kesehatan
  • 1 perusahaan dari sektor industri
  • 2 perusahaan dari sektor infrastruktur
  • 2 perusahaan dari sektor properti dan real estate
  • 0 perusahaan dari sektor teknologi
  • 0 perusahaan dari sektor transportasi dan logistik

Rights Issue

BEI juga mencatat hingga 7 November 2025 telah terdapat 10 perusahaan tercatat atau emiten yang menggelar rights issue. Total nilai rights issue sebesar Rp 16,63 triliun.Adapun satu perusahaan tercatat dalam pipeline rights issue yakni di sektor properti dan real estate.

BEI Pangkas Target IPO Tahun Ini jadi 45 Perusahaan

Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) total menargetkan 45 perusahaan melakukan pencatatan saham perdana alias Initial Public Offering (IPO) di sepanjang 2025 ini. Jumlah itu turun dari target awal sebanyak 66 perusahan IPO di tahun ini.

Direktur Utama BEI Iman Rachman menyampaikan, hingga 24 Oktober 2025 telah masuk 23 emiten baru di tahun ini, dan 13 lainnya masih dalam antrean (pipeline).

Dari jumlah IPO tahun ini, 5 di antaranya merupakan emiten raksasa. Yang melakukan lighthouse IPO, dengan nilai aset di atas Rp 3 triliun dan free float minimal 15 persen atau setidaknya bernilai Rp 700 miliar

"Jumlah perusahaan tercatat sampai hari ini adalah 955 perusahaan, dengan jumlah IPO 23 (di 2025). Dengan pipeline 13, dengan lighthouse IPO ada 5," beber Iman dalam sesi konferensi pers RUPSLB BEI 2025, Rabu (29/10/2025).

Iman pun pede jumlah lighthouse IPO hingga akhir 2025 bisa bertambah menjadi 6 perusahaan. Angka itu lantas dipatok menjadi target di tahun berikutnya.

"Jadi tahun ini kita targetkan 6 lighthouse. Jadi dari 50 yang itu ada 6 lighthouse IPO. Jadi tadi kita tidak bicara hanya jumlah, tapi juga kita bicara atas kualitas IPO-nya," ungkap dia

Kinerja IHSG Sepekan

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyentuh rekor tertinggi lagi pada perdagangan 3-7 November 2025.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (8/11/2025), IHSG naik 2,83% dengan ditutup ke posisi 8.394,59. “Hal tersebut menjadi rekor tertinggi IHSG sepanjang sejarah,” ujar Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad.

Adapun kondisi IHSG berbeda dari pekan lalu. Saat itu IHSG turun 1,3% ke posisi 8.163,87.

Vice President Head of Marketing, Strategy & Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi Kasmarandana menilai kenaikan IHSG didorong oleh beberapa sentimen. Pertama, rilis data ekonomi Indonesia yang masih solid, yakni Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal ketiga tumbuh 5,04% y/y.

Selain itu, PMI Manufaktur di level 51,2 per Oktober 2025 atau di zona ekspansif, selanjutnya pertumbuhan inflasi sebesar 2,86% y/y per Oktober 25 yang menunjukkan masih terjaga di target Bank Indonesia (BI).

“Pertumbuhan ekspor meningkat menjadi 11,4% y/y atau di atas bulan sebelumnya yang menunjukkan aktivitas ekonomi yang meningkat,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com lewat pesan singkat.

Sentimen IHSG

Kedua, rilis kinerja kuartal ketiga 2025. Oktavianus menuturkan, beberapa sektor menunjukkan outperform dibandingkan periode sebelumnya sehingga mendorong demand dan normalisasi harga saham pada nilai wajarnya. . Ketiga, ,enurunnya kekhawatiran pasar pada kebijakan tarif Amerika Serikat (AS), seiring dengan pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Xi Jinping yang mendapatkan kesepakatan.

“Selain itu, government shutdown yang masih berlanjut berpotensi menekan indeks USD, sehingga di sisi lain tekanan terhadap Rupiah sudah mulai berkurang,” kata Oktavianus.

Kapitalisasi pasar BEI naik 3,09% menjadi Rp 15.316 triliun dari Rp 14.857 triliun pada pekan lalu.

Di sisi lain, rata-rata frekuensi transaksi harian merosot 6,85% menjadi 2,16 juta kali transaksi dari 2,32 juta kali transaksi pada pekan lalu.

Rata-rata volume transaksi harian bursa pada pekan ini turun 14,37% menjadi 27,06 miliar saham dari 31,61 miliar saham pada pekan lalu. Rata-rata nilai transaksi harian BEI tergelincir 22,46% menjadi Rp 17,54 triliun dari Rp 22,63 triliun pada pekan lalu.

Selama sepekan ini, investor asing masih mencatatkan aksi beli saham. Tercatat aksi beli saham mencapai Rp 3,45 triliun dari pekan lalu Rp 5,53 triliun.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |